Desaku Menatap Dunia

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Monday, July 31, 2017

Dialog Interaktif Sekaligus Praktik Pembuatan Pupuk Kompos

Radio Permata 99fm desa Aeng Panas juga memberikan akses pada masyarakat untuk memperoleh informasi seputar pembuatan pupuk kompos yang sedang berlangsung di balai desa. Hal ini sebagai bentuk kepedulian aparat desa kepada masarakat yang berhalangan hadir di balai desa Aeng Panas.
Dialog interaktif ini berlangsung hangat sejak permulaan acara dilaksanakan. Antusiasme Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN), sekretaris desa, pemuda, dan masyarakat yang mayoritas mata pencahariannya sebagai petani banyak mempertanyakan persoalan pupuk kompos.

Pelatihan pembuatan pupuk kompos tersebut dirasaa sangat bermanfaat untuk masyarakat. Sebab, tanah persawahan di desa Aeng Panas memiliki tekstur yang keras. Menurut pemateri, selain karena ciri khas tanah di Madura memang kering dan keras, ada alasan lain yaitu unsur hara di dalam tanah berkurang disebabkan penggunaan pupuk pestisida atau pupuk kimia yang berlebihan.

Praktik pembuatan pupuk juga dilakukan untuk memberi penjelasan nyata dalam pembuatan. Selain itu, kelompok KKN dari Universitas Trunojoyo Madura juga sudah membuat produk jadi dari pupuk kompos tersebut dengan branded “Pupuk Kompos AP 8”.

Harapan ke depannya, masyarakat dapat melanjutkan praktik pembuatan pupuk kompos tersebut sehingga dapat meminimalisir biaya dengan sampah organic yang ada di sekitar.

Friday, July 28, 2017

Sosialisasi Pupuk Kompos

Sosialisasi pupuk organik di balai desa Aeng Panas disampaikan oleh dosen fakultas Pertanian program studi Agroteknologi Universitas Trunojoyo Madura. Dihadiri oleh perwakilan dari 14 gabungan kelompok tani (GAPOKTAN).

Antusiasme masyarakat dibuktikan dengan kedatangan para pemuda desa Aeng Panas. Kepedulian terhadap lingkungan khususnya tanah pertanian di sawah untuk memperbaiki unsur hara di dalam tanah.

Sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat khususnya gabungan kelompok tani desa Aeng Panas. Sehingga dalam perawatan tanah di sawah tidak banyak menggunakan pupuk pestisida atau kimia.

Thursday, July 27, 2017

Produk Dari Daun Pohon Siwalan

Tepatnya di rumah Tiya, salah satu pemuda di dusun Cecek desa Aeng Panas, ia memanfaatkan potensi alam di sekitarnya dengan maksimal. Desa Aeng Panas yang terkenal dengan pohon siwalannya disulap oleh gadis berusia 17 tahunitu menjadi produk-produk unggulan. Daun pohon siwalan dimanfaatkan untuk membuat cepuk.


Selain daunnya yang digunakan untuk tempat kembang gula, bagian tengah atau biasa disebut lidi daun pohon siwalan juga dapat dibuat piring lidi. Piring lidi ini sudah marak di pasaran bahkan sampai restoran. Hal ini dilakukan Tia karena kepeduliannya terhaap lingkungan. Banyaknya daun siwalan yang berjatuhan tempat terakhirnya hanya di TPA kemudian dibakar. Untuk itulah Tia berinovasi dalam pengembangan produk.


Pemasaran dari produk pirin lidi ini sudah sampai ke pelosok negeri. Hal yang sangat disayangkan adalah, kurangnya tenaga kerja untuk memproduksi piring lidi dalam jumlah besar. Sebab, banyak masyarakat yang kurang berminat dengan pembuatan piring lidi tersebut. Sehingga permintaan yang banyak belum sepenuhnya dapat dipenuhi.

Harapan kedepan, mindset masyarakat desa Aeng Panas tidak berpatokan pada hasil langsung tetapi mampu berinovasi dari bahan mentah untuk memberi nilai tambah pada produk.

Wednesday, July 26, 2017

Wisata Religi Desa Aeng Panas

Prespektif Budaya Masyarakat di Desa Aeng Panas sangat kental dengan budaya Islam. Hal ini dapat dimengerti karena hampir semua desa di Kabupaten Sumenep sangat kuat terpengaruh pusat kebudayaan Islam yang tercermin dari keberadaan Pondok -Pondok Pesantren yang ada di Sumenep.

Dari latar belakang budaya, kita bisa melihat aspek budaya dan social yang terpengaruh dalam kehidupan masyarakat. Didalam hubungannya dengan agama yang dianut misalnya Islam sebagai agama mayoritas dianut masyarakat, dalam menjalankannya sangat kental dengan tradisi budaya Islam.

Pengembangan pariwisata di wilayah desa Aeng Panas masih belum memanfaatkan potensi sumber daya alam setempat. Sedangkan potensi yang ada dan berpeluang dikembangkan sebagai obyek wisata adalah wisata religi yaitu wisata bersejarah ke makam para wali yang ada di Aeng Panas seperti Agung Ahmad dan Agung Mahmud, serta wisata laut halmana laut yang masih perawan di Desa Aeng Panas.


Pemandangan yang indah dapat dinikmati langsung dari jalan raya dapat menjadi obyek wisata antar pulau bagi para wisatawan yang ingin berlibur.

Perekonomian Desa Aeng Panas

Kegiatan ekonomi masyarakat desa Aeng Panas yang merupakan pendukung utama terhadap perkembangan perekonomian masyarakat dan menjadi salah satu usaha untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Kegiatan ekonomi yang berkembang di desa Aeng Panas diantaranya:
1. Kelompok Simpan Pinjam : 17 Kelompok
2. Usaha Perkebunan :  44 Kelompok
3. Usaha Angkutan :  30 Unit
4. Industri Rumah Tangga :  63  Kelompok
5. Perdagangan :  62 Kelompok
6. Kelompok Tani :  7 Kelompok
7. Kelompok Perikanan :  4 Kelompok

Tuesday, July 25, 2017

Pundi-Pundi Rupiah Produk Mebel

Produksi Turunan Pohon Jati: Mebel

Pohon Jati merupakan salah satu pohon yang cukup melimpah di desa Aeng Panas, selain pohon siwalan dan pohon kelapa. Pohon jati ini juga menjadi pundi-pundi penghasilan masyarakat desa Aeng Panas yang bekerja sebagai pengrajin.

Sejatinya, tidak semua produk pengrajin kayu jati di Aeng Panas memproduksi atau menyediakan stok, tetapi hanya menerima pesanan dari masyarakat desa sekitar yang memesan.


Produk kayu jati yang paling banyak pemesannya adalah lemari. Adapun permintaan meja rias, meja makan, seperangkat meja dan kursi, serta ranjang. Terkadang, para pengrajin hanya menyetok dua atau tiga lemari. Hal tersebut dilakukan untuk menyiasati jika ada pembelian dadakan. Sehingga stok tersebut akan cepat selesai karena proses selanjutnya hanya memlitur.

Para pengrajin mematok harga dari kisaran Rp. 850.000,- sampai Rp. 3.500.000,-. Patokan harga ditentukan dari kerumitan pembuatan mebel. Semakin rumit dan semakin besar mebel akan semakin mahal harganya.

Harapan kedepan, produk dari mebel tersebut dapat dipasarkan tidak hanya di Sumenep tetapi sampai luar Madura.

Sunday, July 23, 2017

Tikar Ala Desa Aeng Panas

Banyaknya pohon siwalan tidak disia-siakan oleh masyarakat. Selain air nira yang dimanfaatkan untuk membuat air nira, dan berbagai produk turunan lainnya. Daun pohon siwalan dapat dimanfaatkan menjadi tikar. Anyaman ini laku di khalayak khususnya para petani tembakau di Sumenep.


Pembuatan Tikar dari Daun Siwalan
Salah satu warga mengakui, penjualan tikar hanya berkutat pada petani tembakau di Sumenep. Petani tembakau biasanya memesan dengan jumlah cukup besar untuk menyimpan tembakau hasil panen. Sistemnya, jika tikar yang telah dikirim ada yang rusak akan dikembalikan dan akan diganti dengan tikar baru.

Harga yang dipatok sekitar Rp.10.000,- untuk satu tikar. Pembuatan satu tikar tersebut dapat dilakukan selama satu hari, bisa juga setengah hari jika dikerjakan tanpa jeda. Anyaman tikar tersebut tidak bertahan cukup lama, jika digunakan terus-menerus, lebih kurang tiga dua bulan sudah rusak. Sebab, anyaman tikar tidak dilengkapi dengan plastik atau plitur untuk memperkuat anyaman.

“Harapan selanjutnya, daun pohon siwalan dapat dimanfaatkan tidak hanya untuk membuat tikar, tetapi juga kreasi lain seperti tas dan dompet,” celetuk Sofyan, salah satu warga dusun Galis desa Aeng Panas.

Saturday, July 22, 2017

Pengemasan Gula Merah di Desa Aeng Panas

Beginilah cara masyarakat Aeng Panas Menyambung Hidup III

Pengemasan merupakan proses terpenting dalam sebuah produk untuk menambah nilai jual produk tersebut. Namun, di desa Aeng Panas khususnya, pengemasan gula merah belum di maksimalkan. Hal tersebut disebabkan karena pembeli atau pemesan gula merah hanya bekutat pada lingkungan sekitar yang membutuhkan seperti tetangga atau kerabat. Sehingga penjual maupun pembeli tidak memusingkan terkait pengemasan.


Pengemasan Gula Merah Aeng Panas
Proses pengemasan yang kurang dikelola dengan baik inilah yang menjadikan penjualan/pangsa pasar sedikit. Padahal branded sangat mempengaruhi pemasaran suatu produk. Sehingga pendapatan yang diperoleh masyarakat juga tidak mengalami peningkatan secara gradual. Karena hanya mengandalkan pangsa pasar dalam regional desa.

Selain itu, nilai jual gula merah tidak lebih dari Rp. 10.000,-. Hal ini cukup memprihatinkan. Dari awal pencarian air nira yang harus memanjat pohon tinggi menjulang, pemasakan gula selama lima jam sampai pencetakan gula merah hanya dihargai denga upah Rp. 8.500,- per kilogramnya.

Selanjutnya, diharapkan masyarakat mampu mengelolah gula merah menjadi produk lain guna peningkatan nilai jual, seperti dodol gula merah, serbuk gula merah, permen, dan produk lain yang bisa menghasilkan keuntungan lebih tinggi dibandingkan dengan harga asli gula merah itu sendiri.

Pembuatan Gula Merah

Beginilah Cara Warga Desa Aeng Panas Menyambung Hidup II

Air nira selanjutnya dimasak menjadi gula merah dengan tungku kayu. Cara memasak dengan tungku kayu masih menjadi budaya warga desa Aeng Panas, sebab pemasakan gula merah sedikit. Selain itu, juga untuk lebih memperkuat rasa serta kualitas gula merah.

Lama waktu memasak gula merah tegantung dari jumlah air nira yang dimasak. Diperirakan 5 liter air nira dapat dimasak selama 5 jam, dan harus terus diaduk saat air nira mulai naik dari wajan besar.

Berikut alat-alat yang digunakan untuk memasak hingga mencetak gula merah:




Alat tuang pencentakan gula merah
Setelah masak dan sudah dicetak hingga mengeras, gula merah dapat bertahan selama satu tahun lebih jika tidak disimpan di tempat yang panas.

Proses Pencarian Air Nira untuk Gula Merah

Beginilah Cara Masyarakat Aeng Panas Menyambung Hidup I

Menjelang pagi, beberapa orang di Dusun Galis, Desa Aeng Panas memulai aktivitasnya dengan mencari air nira dari pohon siwalan. Pohon siwalan yang tingginya menjulang layaknya pohon kelapa tidak menjadikan mereka lelah. Alat bantu yang digunakan untuk memanjat tidaklah sulit, cukup dengan beberapa alat yang dalam bahasa Madura biasa disebut selampar (digunakan untuk memanjat pohon siwalan agar tidak jatuh), pengapit/ penjepit (digunakan untuk menjapit manyang atau salah satu bagian dari pohon siwalan yang mengeluarkan air nira), talambud (digunakan sebagai tempat disimpannya serbuk pengawet yang berasal dari kulit pohon kesampeeh agar air nira yang diambil rasanya tidak berubah). Berikut ini adalah beberapa gambar alat-alat yang biasa diguakan oleh para warga di Desa Aengpanas khususnya Dusun Galis.




Serbuk kayu Kesampih digunakan untuk mengawetkan air nira dari pohon untuk sampai ke dapur guna pembuatan gula merah agar tidak basi. Kulit kesampih tersebut nantinya akan di hancurkan sampai menjadi serbuk.

Rumah Musik dan Informasi: Radio Permata 99fm

Letak geografis desa Aeng Panas yang berada di pegunungan menjadi salah satu hambatan dalam penyampaian informasi kepada dusun-dusun didalamnya sebelum adanya teknologi canggih era ini seperti ponsel android. Namun, keterbatasan dari penggunaan ponsel tersebut hanya dapat dinikmati oleh kalangan menengah ke atas. Sehingga tidak banyak masyarakat menengah ke bawah kurang efektif ataupun terlambat menerima informasi.


Tidak hanya menggunakan ponsel, desa Aeng Panas menyediakan pusat informasi tepat di sebelah balai desa yang dapat menjangkau seluruh desa Aeng Panas yaitu Radio Permata. Adanya radio ini diharapkan mampu menyampaikan informasi tidak hanya kepada masyarakat menengah ke atas tetapi juga menengah ke bawah.

Adanya radio permata ini juga memberikan kesempatan kepada masyarakat baik dari kalangan anak-anak sampai dewasa. Dari kalangan anak-anak, dapat dimanfaatkan sebagai ajang pemberian edukasi dan pelatihan untuk mengisi suara. Para pebisnis pun demikian, mereka dapat memperkenalkan produknya melalui saluran radio. Sehingga, pendirian radio permata ini dapat memberi dampak baik terhadap masyarakat desa Aeng Panas dan sekitarnya.

Friday, July 21, 2017

Pertemuan Peserta KKN 8 dan Aparat Desa di Balai Desa Aeng Panas


Kantor kepala desa Aeng Panas di dusun Galis, menjadi tempat perkumpulan kedatangan peserta KKN dari Universitas Trunojoyo Madura. Ada 16 peserta yang di dalamnya.

Peserta KKN khususnya kelompok 8, memberikan pemaparan program. Program-program tersebut nantinya diharapkan mampu memberikan kontribusi terbaik untuk dusun-dusun di Aeng Panas. Sehingga tidak terdapat konvergensi kegiatan ekonomi di dusun-dusun.


Pemaparan program tersebut selanjutnya diberi masukan oleh kepala desa dan tokoh masyarakat. Dengan pertemuan yang berlangsung selama lebih kurang 3 jam tersebut, diharapkan masyarakat desa Aeng Panas dan peserta KKN 8 Universitas Trunojoyo Madura dapat membangun desa baik di bidang ekonomi, serta pendidikan melalui potensi desa.