Sunday, July 23, 2017

Tikar Ala Desa Aeng Panas

Banyaknya pohon siwalan tidak disia-siakan oleh masyarakat. Selain air nira yang dimanfaatkan untuk membuat air nira, dan berbagai produk turunan lainnya. Daun pohon siwalan dapat dimanfaatkan menjadi tikar. Anyaman ini laku di khalayak khususnya para petani tembakau di Sumenep.


Pembuatan Tikar dari Daun Siwalan
Salah satu warga mengakui, penjualan tikar hanya berkutat pada petani tembakau di Sumenep. Petani tembakau biasanya memesan dengan jumlah cukup besar untuk menyimpan tembakau hasil panen. Sistemnya, jika tikar yang telah dikirim ada yang rusak akan dikembalikan dan akan diganti dengan tikar baru.

Harga yang dipatok sekitar Rp.10.000,- untuk satu tikar. Pembuatan satu tikar tersebut dapat dilakukan selama satu hari, bisa juga setengah hari jika dikerjakan tanpa jeda. Anyaman tikar tersebut tidak bertahan cukup lama, jika digunakan terus-menerus, lebih kurang tiga dua bulan sudah rusak. Sebab, anyaman tikar tidak dilengkapi dengan plastik atau plitur untuk memperkuat anyaman.

“Harapan selanjutnya, daun pohon siwalan dapat dimanfaatkan tidak hanya untuk membuat tikar, tetapi juga kreasi lain seperti tas dan dompet,” celetuk Sofyan, salah satu warga dusun Galis desa Aeng Panas.

0 comments:

Post a Comment