Profil & Sejarah Desa



VISI 

"Membangun Desa Aeng Panas  dengan penuh Kejujuran, Keterbukaan, dan Kebersamaan"
 
MISI 
a.    Mewujudkan kehidupan sosial masyarakat yang aman, tentram, agamis, harmonis dan berkebudayaan melalui penguatan kepribadian.
b.    Mewujudkan tata pemerintahan yang perofesional, efektif, transparan, responsip, yang berorientasi pada pelayanan public.
c.    Meningkatkan infra struktur pembangunan, penggalian SDA dan kemandirian local dengan semangat kebersamaan.
d.    Meningkatkan kapasitas lembaga kemasyarakatan desa dan potensi SDM melalui peningkatan kwalitas pendidikan, pelatihan dan iklim kerja.
e.    Menngkatkan kesejahteraan masyarakat yang adil dan merata melalui produktifitas sektor usaha dan lapangan kerja.
f.    Mengoptimalkan sistem pelayanan prima kepada masyarakat tanpa diskriminasi.
g.    Meningkatkan pelayanan kesehatan yang makin dekat dan berkwalitas.
h.    Menguatkan sistem komonikasi dan informasi tanpa jarak dengan warga masyarakat melalui Radio desa.
i.    Melestarikan adat budaya dan kearifan lokal sebagai upaya pelembagaan tata pemerintahan dan kesejahteraan masyarakat
 

SEJARAH
     Nama “Aeng Panas” dalam sejarahnya tidak lahir begitu saja. “Aeng Panas“ diambil dari nama sumber mata air di Taman Pesisir Aeng Panas yang selalau hangat walaupun di malam hari. Bukti sejarah itu sampai sekarang masih ada dan tetap terawat dengan baik. Dari dulu hingga kini Taman Pesisir Aeng Panas telah menjadi persinggahan warga dari berbagai daerah, selain karena tempatnya yang nyaman, sejuk, udara yang masih bening karena berdampingan langsung dengan selat madura yang senantiasa menggotong ombak menciumi pantai.
     Dalam sejarahnya Aeng Panas memiliki pelabuhan. Dari pelabuhan itulah para Saudagar hilir mudik datang membawa dagangan dan budaya dari tanah asalnya, utamanya Saudagar dari China. Dari Saudagar itulah akulturasi budaya masuk dan mewarnai prilaku hidup masyarakat desa Aeng Panas bahkan mewarnai masyarakat Kabupaten Sumenep. Para Saudagar itu bukan hanya datang dari bangsa China melainkan juga dari berbagai negara/daerah penyebar agama Islam, corak Islam mendominasi kehidupana masyarakat. Maka lengkaplah desa Aeng Panas bukan hanya menjadi pusat perkembangan  budaya melainkan juga menjadi tempat para wali penyebar agama Islam.
     Silsilah para masyayikh yang ada di Kabupaten Sumenep khusunya dan Kabupaten pamekasan adalah keturunan para wali yang ada di Desa Aeng Panas. Para wali yang terkenal hingga saat ini yang maqbarohnya ada di Dusun Pesisir adalah Syekh Agung Ahmad. Beliau masih keturunan Rato Bagandan Pamekasan yang kawin dengan Puteri Bujuk Damar / Syekh Fathul Qarib yang merupakan keturunan Sunan Ampel Surabaya. Adapun maqbarah lain yang juga terkenal di desa Aeng Panas adalah Syekh Agung Mahmud adalah putera angkat dari Bindara Saod yang merupakan menantu dari Syekh Agung Ahmad.
     Terbentuknya Desa Aeng Panas Kecamatan Pragaan terbukti dalam Legenda Kerajaan Sumenep pada masa kepemimpinan Raja Arya Wiraraja. Desa ini saat itu masih merupakan hutan belantara, hanya ditempati beberapa penduduk saja. Dalam perjalanan pulang memenuhi panggilan Raja Majapahit, Jokotole mengendarai kuda selama dalam perjalanan beliau menghadapi banyak kejadian- dimana setiap kejadian yang terjadi pada jalur perjalanan yang beliau lalui akhirnya oleh sejarah dicatat sebagai  cikal bakal nama sebuah desa tersebut.
     Konon Isteri Joko Tole kedinginan dan ingin mandi air hangat, maka ditancapkanlah tongkatnya kebumi, maka dari ujung tongkat itulah memancar air hangat yang dikenal kemudian dengan sebutan “Aeng Panas”.  Untuk selanjutnya sumber mata air itu dirawat oleh seorang Saudagar China yang mendiami rumah dengan kontruksi belanda sisamping sumber mata air tersebut yang mana kehadiran Saudagar itu memberikan nuansa perdagangan dan jasa yang sangat ramai dan berkembang di desa Aeng Panas.